Grup Riset Layanan Pendidikan Khusus PLB FKIP UNS Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat: Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) bagi Guru SLB Negeri Cangakan Karanganyar

Grup Riset Layanan Pendidikan Khusus Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS) bertajuk “Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) dalam Implementasi Inovasi Kurikulum di SLB”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 08 Juli 2026 bertempat di Hotel FIM by Zigna. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Program Studi Pendidikan Luar Biasa dengan SLB Negeri Cangakan Karanganyar, dalam rangka mengkaji secara mendalam permasalahan perilaku seksual pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB) dari sudut pandang pendidikan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga telah mencantumkan terkait dengan SDGs 3, SDGs 4 serta SDGs 17, yaitu berkaitan dengan kesehatan, pendidikan dan kemitraan.

Tim pengabdian terdiri atas beberapa dosen PLB yang diketuai oleh Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S., dengan anggota Priyono, S.Pd., M.Si., Erma Kumala Sari, S.Psi., M.Psi., Psikolog., Arsy Anggrellanggi, S.Pd., M.Pd., dan Permata Primadhita Nugraheni, M.Pd. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenali dan memetakan permasalahan perilaku seksual yang dihadapi ABK di SLB, sekaligus merumuskan langkah-langkah pendidikan yang tepat dalam meresponsnya, sehingga dapat menjadi acuan bagi tenaga pendidik dan pendamping dalam memberikan perlindungan serta pendidikan yang sesuai.

Sebagai bagian dari skema Pengabdian kepada Masyarakat Hibah Grup Riset (PKM HGR-UNS), kegiatan ini juga memberikan peluang pengembangan profesional dan dukungan bagi pendidik dalam melaksanakan PKRS di sekolah melalui pendekatan yang lebih inklusif, yakni penguatan PKRS bagi guru SLB dalam bentuk pelatihan implementasi kurikulum. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan pendidikan seksual yang mengakomodasi berbagai hambatan dan karakteristik ABK, sekaligus mendukung pencapaian SDGs poin 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), 4 (Pendidikan Berkualitas), dan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ketua Tim Pengabdian, Prof. Dr. Ravik Karsidi, M.S. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya akademik untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada tenaga pendidik dan pendamping ABK mengenai isu seksualitas, sehingga penanganan yang dilakukan di lingkungan SLB dapat berlandaskan pada prinsip pendidikan dan perlindungan anak.

Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi pengantar oleh Priyono, S.Pd., M.Si. mengenai “Mengenali dan Merespons Permasalahan Seksualitas pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)”. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang mengangkat topik “Penyimpangan yang Muncul pada ABK di SLB”, dipimpin oleh Arsy Anggrellanggi, S.Pd., M.Pd. Diskusi ini melibatkan para peserta dalam mengidentifikasi serta membahas berbagai permasalahan yang ditemukan di lapangan terkait isu tersebut.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi kesehatan reproduksi dan seksualitas ABK yang disampaikan oleh dr. Hanifiya Samha Wardhani, M. Kes. Materi ini memberikan pemahaman dari sisi medis mengenai kesehatan reproduksi serta pentingnya edukasi seksualitas yang sesuai bagi ABK di lingkungan sekolah. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan hasil identifikasi awal oleh Erma Kumala Sari, S.Psi., M.Psi., Psikolog., yang menyampaikan temuan terkait kondisi dan permasalahan perilaku seksual ABK di SLB Negeri Cangakan Karanganyar beserta rekomendasi tindak lanjut dari sisi pendidikan. Kemudian kegiatan ini ditutup dengan sesi tanya jawab peserta dengan narasumber.

“Kegiatan ini penting untuk dilakukan dalam rangka memberikan pengetahuan tentang pendidikan kesehatan reproduksi seksualitas (PKRS) yang tepat dan sesuai bagi ABK. ABK, khususnya dengan hambatan intelektual dan komunikasi, jauh lebih rentan mengalami kekerasan seksual, sementara pelatihan PKRS bagi guru SLB masih sangat terbatas. Karena itu, kegiatan ini diharapkan dapat mengisi kesenjangan tersebut dan membekali ABK dengan pemahaman untuk melindungi diri.” Permata Primadhita Nugraheni, M.Pd. Anggota Tim Pengabdian, 08 Juli 2026

Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kapasitas guru serta pengembangan model pendidikan dan pendampingan yang tepat terhadap isu seksualitas pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Luar Biasa. Hasil kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi sekolah, tenaga pendidik, serta orang tua dalam memberikan perlindungan dan edukasi yang sesuai dengan kebutuhan ABK.

Bagikan:

Facebook
X
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait

Berita Terbaru