Surakarta, 17 Mei 2024 — Pusat Studi Disabilitas (PSD) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret mengadakan Rapat Persiapan Kelas Bahasa Isyarat sebagai langkah awal pelaksanaan pelatihan bahasa isyarat di lingkungan kampus. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara PSD LPPM UNS , Pusat Bahasa Isyarat Indonesia (Pusbisindo) Cabang Jawa Tengah , dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS , yang berkomitmen untuk memperkuat budaya inklusif di lingkungan universitas.
Rapat yang dilaksanakan pada 17 Mei 2024 ini dihadiri oleh tim PSD LPPM UNS, perwakilan Pusbisindo Jawa Tengah, serta BEM UNS. Agenda rapat fokus pada penyusunan kurikulum dan jadwal pelaksanaan kelas bahasa isyarat, yang nantinya akan menjadi sarana pengenalan dan pembelajaran bahasa isyarat bagi sivitas akademika UNS.
Dari hasil rapat, disepakati bahwa kelas bahasa isyarat akan dilaksanakan dalam dua sesi dengan total enam kelas, yang terdiri atas:
-
2 kelas untuk dosen dan tenaga kependidikan bagian pelayanan mahasiswa ,
-
1 kelas untuk satpam (sebagai garda depan pelayanan kampus) , dan
-
3 kelas untuk mahasiswa (dengan proyeksi lulusan mampu menjadi pendamping mahasiswa tuli UNS).
Masing-masing kelas akan diikuti oleh 20 peserta dengan total keseluruhan 120 peserta, dan memiliki bobot 30 jam pelatihan (JP). Program ini menjadi tindak lanjut dari hasil audiensi kebutuhan mahasiswa tuli, serta wujud nyata komitmen UNS dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang setara bagi semua.
Ketua PSD LPPM UNS, Prof. Munawir Yusuf, M.Psi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari perjalanan UNS menuju kampus inklusif. “Kami ingin memastikan bahwa inklusivitas tidak hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar diwujudkan melalui aksi nyata. Melalui kelas bahasa isyarat ini, kami berharap seluruh sivitas akademika dapat berkomunikasi lebih baik dengan mahasiswa tuli dan memahami kebutuhan mereka,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan BEM UNS, Atikah Salsabila menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan kelas ini. “Mahasiswa adalah bagian penting dalam mendorong perubahan budaya di kampus. Kami di BEM berkomitmen mendukung penuh kegiatan ini, karena kami percaya bahwa komunikasi adalah kunci dari inklusivitas,” ungkapnya.
Dari pihak Pusbisindo Jawa Tengah, Aprilian Bima Purnanta selaku perwakilan lembaga tersebut menyambut baik kerja sama ini. “Kami sangat mengapresiasi langkah-langkah UNS yang secara memfasilitasi pembelajaran bahasa isyarat. Dengan adanya kelas ini, kami berharap semakin banyak sivitas akademika yang mampu berinteraksi dengan bahasa isyarat secara alami dan menghargai keberagaman dalam komunikasi,” tutur Bima.
Rapat ini menjadi fondasi penting bagi pelaksanaan pelatihan yang akan segera dimulai. Melalui program ini, UNS menegaskan komitmennya sebagai kampus inklusif yang mendengarkan aspirasi mahasiswa penyandang disabilitas dan mewujudkan lingkungan pendidikan yang ramah bagi semua.

