PENDAMPINGAN PROGRAM TRANSISI PASKASEKOLAH BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH INKLUSI

PENDAMPINGAN PROGRAM TRANSISI PASKASEKOLAH BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH INKLUSI

Research Group (RG) Strategi Layanan Khusus Prodi Pendidikan Khusus FKIP UNS telah melakukan sosialisasi dan pendampingan bagi guru sekolah inklusi di wilayah Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut mengusung tema Program Transisi Paskasekolah bagi Penyandang Disabilitas di Solo Raya. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2021 dengan melibatkan 40 guru inklusi di Surakarta. Tujuan dari program sosialisasi ini adalah untuk memberikan informasi dan sosialisasi mengenai model program transisi paskasekolah yang dapat dilaksanakan oleh sekolah inklusi, khususnya tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Materi sosialisasi disampaikan oleh Dr. Herry Widyastono, M.Pd. yang merupakan pakar di bidang pendidikan khusus dan juga staf pengajar di prodi PKh.

Paparan dari Dr. Herry Widyastono, M.Pd diawali dengan latar belakang pentingnya program transisi paskasekolah diberikan pada siswa berkebutuhan khusus. Beliau menyatakan bahwa banyak muncul asumsi yang menyatakan bahwa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki keterbatasan bersaing di dunia kerja maupun dunia pendidikan. Keterbatasan-keterbatasan dalam mendaftar pekerjaan tersebut diantaranya berupa adanya diskualifikasi dari pihak pemberi kerja, bullying, kecemburuan, dan adanya sikap over protected dari orangtua ABK. Padahal UU No 8 Tahun 2016 telah memberikan kesempatan bagi ABK untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan ikut bersaing di dunia kerja. Di samping dunia kerja, ABK juga mendapatkan keterbatasan peluang untuk mendaftar di perguruan tinggi (PT). Diantaranya adalah karena model seleksi tes masuk yang kurang adaptif bagi ABK, adanya ketidaksesuaian dengan pilihan yang diinginkan, tidak terbiasa dengan sistem penerimaan, dan kompetensi yang kurang memadai karena adanya hambatan yang dialaminya.

Prof Gunarhadi, salah satu tim pengabdian, bersama tim peneliti dari Prodi PKh (Prof Munawir & Dr. Subagya) pada tahun 2018-2019 telah mengembangkan model program transisi paskasekolah bagi ABK. Bertolak dari penelitian tersebut, maka Prof Gunarhadi dkk menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk mensosialisasikan model transisi paskasekolah bagi ABK di sekolah inklusi. Program transisi paskasekolah ini merupakan salah satu alternatif solusi untuk meningkatkan peluang kerja dan akademik bagi ABK.

Model tersebut dijelaskan dalam tiga tahap, yaitu tahap input, tahap proses (instruction), dan tahap output. Tahapan input merupakan tahap persiapan yang terdiri dari dua program, yaitu program akademik dan program vokasional. Pada tahap input ini dilakukan asesmen terhadap minat dan kemampuan ABK, apakah lebih sesuai mengikuti program akademik atau program vokasional. Kedua, tahap proses dilakukan dengan memberikan program transisi paskasekolah mulai kelas X hingga kelas XII. Bagi ABK yang mengikuti program akademik, maka 70% dibekali dengan kegiatan akademik dan 30% dibekali program life skill serta diberikan tambahan/transisi berupa pembelajaran akademik klasikal maupun individual.Sedangkan bagi ABK yang mengikuti program vokasional, diberikan pembekalan 70% program life skill dan 30% program akademik dengan tambahan magang/praktik di tempat-tempat kerja. Diharapkan pada tahap output, siswa yang mengambil program akademik akan dapat melanjutkan pendidikan di PT, sedangkan siswa program vokasional dapat melanjutkan karirnya pada dunia usaha, baik sebagai wirausaha maupun sebagai karyawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.